Close

Not a member yet? Register now and get started.

lock and key

Sign in to your account.

Account Login

Forgot your password?

Penentuan Hari Raya (hasil diskusi mailing list)

02 Sep Posted by in langit, Religi, Tips n Trick | 1 comment
Penentuan Hari Raya (hasil diskusi mailing list)
 

Saya dapat bahan dari milist alumni sekolah saya, yang saya percaya dihuni oleh temans yang cukup kompeten dalam urusan agama…untuk kebenaran bahasan kita serahkan pada kepercayaan kita masing – masing saja, semoga bisa menambah pengetahuan dan ilmu kita dalam beragama…jadi gak asal ngikut aja :)

Silakan di simak

Awalnya gini:
hisab itu adalah perhitungan falakiyah, yg mana memberikan ketetapan di Konferensi Islam sedunia di Maroko bahwa posisi bulan bisa dilihat itu minimal 2 atau 3 derajat.
Ini menghitung derajat bulan secara ilmu falak, shg bisa diprediksi berapa derajat posisi bulan di suatu waktu.
Dalam konteks diskusi 1 Syawal kali ini, kalender Falakiyah NU menyatakan posisi hilal masih di bawah 2 derajat. Muhammadiyah pun ternyata demikian, kurang 2 derajat.

Terus rukyat, melihat bulan.
Zaman nabi menggunakan mata. Nah, zaman sekarang ini rukyat dapat menggunakan alat bantu yang untuk memastikan posisi hilal. Jadi, rukyat merupakan penegas dari hisab, bila kurang 2 derajat maka dengan alat bantu pun juga tidak akan terlihat.
Rukyat sangat berfungsi bila terjadi keraguan dalam penghitungan, misal spt saat ini posisi hilal sangat nanggung: 1,8 derajat, kurang sedikit dari minimal dapat dirukyat: 2 derajat.

Rukyat kali ini dilakukan oleh Depag dan ormas termasuk NU, NU menugaskan 110 orang untuk 90 titik pengamatan hilal. Pengamatan ini juga menggunakan alat-alat teleskop yg canggih, seperti di Boscha yg teleskop segede rumah tipe 21, namun seluruh titik tadi menyatakan tidak dapat melihat hilal, krn memang secara perhitungan di bawah 2 derajat.

Kesimpulannya: dalam kasus 1 Syawal ini, secara hitungan hisab posisi hilal di bawah 2 derajat dan juga sudah dibuktikan dengan pengamatan rukyat di 90 titik tidak dapat melihat hilal, maka seharusnya Ramadhan kali ini digenapkan 30 hari, yg mana 1 Syawal jatuh pada 31 Agustus.

Dalam konteks ini, mau selasa atau rabu, sama sama punya dalil yang kuat.

Ada 2 cara menentukan awal bulan1. Hisab, melihat bulan dengan cara itung-itungan. Ru’yat, melihat bulan dengan mata telanjang, juga dibantu teleskop dan pencitraan satelit

Hisab dibagi dua1. Hisab denga kriteria wujudul hilal, tidak peduli berapapun ketinggian hilal, selama sudah di atas NOL derajat sudah dianggap siklus bulan baru2. Hisab dengan kriteria imkanur ru’yat, kriteria bulan baru jika tinggi bulan memungkinkan untuk dilihat mata telanjang, kriteria di regional asean 2 derajat, kriteria internasional minimal 3 derajat

Muhammadiyah menggunakan hisab wujudl hilal
Persis menggunakan hisab imkanur ru’yat
NU-Pemerintah menggunakan kombinasi hisab imkanur ru’yat dan ru’yat.

Yang menentukan adalah ru’yat, tapi kapan melihat bulan, prosedur persaksian yang harus diterima etc menggunakan bantuan hisab. Itulah kenapa kalau semalam temen2 lihat sidang itsbat, meski beberapa ada yang bilang menyaksikan hilal (ru’yat) tapi ditolak dengan beberapa pertimbangan dari hasil hisab imkanur ru’yat. Mustahil hilal bisa dilihat kalau dibawah 2 derajat.

Setelah selesai dengan kriteria hisab atau ru’yat, implementasinya beda lagi, apakah hasilnya berlaku untuk semua ummat islam di dunia? Atau di indonesia saja?
Ormas NU-muhammadiyah-persis etc sepakat bahwa hisab dan ru’yat hanya berlaku diwilayah hukum yang disepakati, dalam konteks ini Indonesia. Tidak berlaku untuk negara tetangga, presidennya udah beda.
Ormas seperti HTI-Salafy beranggapan kalau 1 negara sudah melihat hilal berdasar ru’yat, dan kesaksiannya bisa diterima, berlaku global

Ada pertanyaan dari seorang teman, “Kenapa negara2 lain bisa hari ini lebaran? Metode apa yang mereka gunakan? Kalo rukyatul hilal juga, kenapa mereka bisa melihat hilal sedang di tempat kita tidak? Apakah ada hadits yang mengatakan bahwa rukyatul hilal itu dengan melihat bulan 2 derajat? Ada yg tau, 2 derajat itu dari mana sumbernya?”

Setahu saya masa melihat bulan itu sampai sebelum maghrib di hari yang ke 29, untuk menentukan besok itu bulan baru atau harus digenapkan jadi 30 hari. Lewat dari waktu magrib, maka sudah masuk hari yg berbeda, mungkin jam 7-nya mengacu ke waktu terakhir shalat maghrib. Kebetulan juga sidang isbath semalam dilakukan jam 7 dng melihat hasil pengamatan di waktu maghribnya.

Malaysia memiliki wilayah yg lebih Utara/ Barat ketimbang Indonesia, jadi pas di pengamatan di wilayah Malaysia sampai ke Arab sana, derajatnya sudah lebih dari 2 derajat, berganti hari.

Kok Filipina yg lebih Timur ketimbang Indonesia sudah hari raya juga? Karena ternyata Filipina tidak menghitung/ merukyat sendiri, namun mengikuti perhitungan Arab Saudi. Kita lihat di banyak wilayah yg penduduk muslimnya banyak berkumpul di suatu wilayah, sebagian besar mengacu ke Arab Saudi, seperti Belanda.

Kita lihat peta dunia dulu. Penanggalan hijriyah digunakan untuk menentukan pergantian bulan, spt 1 Syawal ini menggunakan pergerakan bulan yg mengelilingi bumi. Kembali ke peta, sebagian besar negara yg berada sejajar Indonesia atau lebih Selatan ketimbang Indonesia menyatakan bulan tidak dapat dilihat.

Ternyata bulan itu geraknya tidak lurus terus sepanjang masa, namun bergeser sekitar 23 derajat setiap tahunnya.
Perbedaan pendapat dalam penentuan hari pergantian bulan sudah sangat lama, hingga diadakan Konferensi Islam sedunia (tahun 1978 kalo tidak salah, silakan digoogling), disepakati bahwa posisi bulan yg bisa dilihat adalah minimal 3 derajat, sebagian berpendapat 2 derajat.

Artinya, bila posisi bulan baru (hilal) kurang dari 2 derajat di atas suatu wilayah, maka wilayah itu tidak dapat melihat bulan, maka wajib menggenapkannya menjadi 30 hari. Dalam konteks penetapan tanggal 1 Syawal ini, posisi bulan di Indonesia masih 1,8 derajat berarti belum bisa dilihat dan seharusnya harus dibulatkan ke 30 hari, shg jatuh 31 Agustus 2011.

Mungkin dari paparan diatas akan menimbulkan pertanyaan lagi…Semua tau bulan bergerak ke arah barat, kalau negara sebelah barat kita sudah lebaran, kenapa kita kok malah telat? Apa itu tidak menyalahi hukum juga? Karena kita tidak lihat terus kita memaksa mundur 1 hari. Jepang sebelah timur besok lebaran, Malaysia sebelah barat besok lebaran, Kita ditengah2 lusa baru lebaran, kok rasanya aneh?

Dalam hal penanggalan hijriah, negara yang ada di sebelah barat kita berpotensi lebih dulu melihat bulan, karena posisi bulan dibanding matahari akan lebih tinggi, sehingga lebih mudah melihat bulan. Sementara yang ditimur akan lebih sulit karena lebih rendah.

Itu kenapa Malaysia, timur tengah bisa lebih duluan 1 syawalnya. Dalam konteks Jepang, mereka mengikuti saudi, menganut konsep global matla’, artinya wilayah hukum mereka ditentukan oleh keputusan global, dalam konteks ini mengikuti Arab Saudi.
Sementara Indonesia, dalam konteks matla’ ini mengikuti wilayatul hukmi, yaitu di wilayah mana ulil amri berkuasa, dalam konteks ini kementrian agama republik indonesia lah yang berwenang memutuskan hukum atas awal bulan. Jika nanti ada khilafah, ada 1 hukum, ya itulah yang dijadikan acuan. Karena sekarang di negara kita tidak ada, wilayatul hukmi mengacu ke pemerintah indonesia.

Indonesia kedepanya memiliki tantangan untuk Menyamakan persepsi hisab antara wujudul hilal dan imkanur ru’yat untuk menguatkan ru’yat2. Kesamaan matla’ul hilal. Apakah berlaku global atau berdasar wilayah hukum, saat ini ummat islam belum sepakat, karena belum ada khalifah, sehingga terpecah belah, ada yang ngikutin global, ada yang ikutan pemerintah di negara masing-masing.

Mengingat bumi itu bulat, perbedaan waktu itu suatu keniscayaan sebagaimana kalender masehi (1 matahari beda GMT).

China yang wilayahnya membentang dari timur ke barat hanya pakai 1 timezone GMT +8, sementara Indonesia yang sama membentang kayak china pakai 3 timezone (GMT +7/8/9) unik kan? Itulah kadang pentingnya Khilafah/satu ulil amri, untuk membuat konsensus yang harus nantinya akan ditaati bersama. Jika ulil amri nanti bilang global, ya semua ummat islam patuh. Jika ulil amri bilang dibagi perwilayah ala GMT yo manut.

Yang harus dilakukan masih banyak, masih panjang. Kata nabi “istafti qolbaka” … Minta fatwa pada hati nuranimu. Masih bingung? Paling selamet ikut ulil amri. Dalam konteks ini Kemenag yang semalam sudah bersidang dan memutuskan 1 syawal jatuh rabu …Wallahu a’lam.

Haditsnya yang menentukan awal dan akhir puasa :
“Tashuumu hatta taraa’ul hilal, wa laa taftharuu hattaa taro’uha, fa inghumma alaikum, fauqduru alaihi, asy syahru hakada wa hakada”

Berpuasalah sampai kamu melihat hilal, dan janganlah berbuka (lebaran) sampai kamu melihat hilal, jika kamu tidak mampu melihatnya maka sempurnakanlah bilangannya. Sesungguhnya bilangan bulan itu sekian dan sekian (sambil nabu menunjukkan jarinya untuk 29 dan 30)

20110830-115942.jpg

Related Posts

  1. Kunarso09-06-11

    Pengalaman terkecohnya Ummat Islam di Samarinda yang akan melaksanakan Shalat Gerhana pada saat GMC tahun 2009 memberikan pelajaran, walaupun BMG sementara ini dianggap lebih tahu tentang trend astronomi ternyata informasi yang diberikan menyesatkan ummat Islam yang akan beribadah shalat gerhana, berita selengkapnya silahkan buka http://www.rozy.web.id/informasi/shalat-gerhana-di-beberapa-tempat-samarinda-terhambat/
    Shalat Gerhana di Beberapa tem… Lihat Semua

Leave a Reply