Close

Not a member yet? Register now and get started.

lock and key

Sign in to your account.

Account Login

Forgot your password?

Suku Mentawai Penghuni Cincin Api

01 Nov Posted by in Peristiwa, Sejarah | Comments
Suku Mentawai Penghuni Cincin Api
 

Gentlemans pakai kambi (cawat kulit kayu), ladies pakai ‘rok anyaman serat pohon pisang’. Dan Tatto bukan berarti Emo atau Gothic, tapi tradisi. Seiring jaman, ciri ini mulai pudar.

Pasca Tsuami Aceh silam, suku & kepulauan mentawai jadi sorotan, mirip selebritis suku tradisionil. Maklum, mentawai berada di sekitar rawan gempa & (cincin api). Info geografis Google Earth, ketika dilakukan pencarian dengan keyword terkait, kepulauan ini bahagian dari Sumatera Barat & Sumatera Utara. Terdiri dari Pulau Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan.

500.000 tahun lalu (zaman Pleistocene), diperkirakan, Kepulauan Mentawai terpisah dari daratan Sumatra oleh naiknya permukaan air laut. Sejak itulah pulau ini terisolasi. Jika air laut naik lagi, mungkin hilang benar.

penduduknya 18.554 jiwa, 15 % orang asli, dan pendatang – Batak, Minangkabau & minoritas kulit putih (sensus 1980). Siberut merupakan pulau terbesar, tapi penduduknya paling sedikit. Sulitnya komunikasi – transportasi, turut memperlambat perkembangannya Siberut.

Bahasa Mentawai bagian dari rumpun bahasa Austronesia, ada bermacam logat; logat Simalegi, Sekudai, Sikalagan, Silabu, Taikaku, Saumanganya, dll.

Setengah abad silam sebelum masuk budaya luar, Mentawai hidup dalam peradaban Neolitikum. Misteriusnya sejarah alam & asal-usul orang Mentawai, sebagian ahli menduga mereka termasuk bangsa Melayu tua/Proto Melayu, sebagian lain menduga mereka termasuk bangsa Polinesia. Ada pula pendapat, orang Mentawai adalah Proto-Malayan yang bermigrasi dari area terdekat, mengingat kemiripan dengan Nias (kosmologi & antropologi ragawi).

Misterius nya lagi, mengapa pada hunian mereka tak dijumpai peradaban batu besar (menhir, dolmen & batu kubur) ? Bisa jadi karena lokasi baru huniannya, atau karena kecilnya unit populasi migran hingga kurang tenaga untuk membangun artefak-artefak batu? Beberapa peralatan berburu dan rumah tangga dari batu, sudah lama digantikan logam yang didatangkan dari Sumatera.

While that, orang Mentawai sendiri percaya tradisi tutur, bahwa mereka berasal dari Pulau Nias (Selatan?) yang turun ke daerah Simatalu di Pantai Barat Siberut. pulau yang dusun-dusunya didirikan di tepian sungai – sebagai sarana lalu lintas, membelah hutan lebat yang sebagian tergenang rawa.

Satu dusun (lazimnya berpenduduk puluhan/ratusan) terdiri dari beberapa uma (rumah bersama untuk beberapa keluarga) sebagai pusat, sedangkan rumah lalep (rumah individual untuk satu keluarga) dan rumah rusuk (rumah sementara untuk pasutri muda) yang sederhana mengelilinginya.

berburu adalah penghasilan utama disamping meramu sagu. Menggunakan kapak dan beliung batu yang diperoleh dari pedagang luar yang singgah membeli hasil hutan. Setelah pedagang banyak berdatangan, barulah mereka mendapat peralatan besi. Siberut khususnya, mata pencahariannya berkebun dan berladang di pinggir hutan yang berawa-rawa.

Tengkorak babi hutan, monyet dan kulit ibat laut (kura-kura) digantungkan di dinding uma & para-para, pertanda berapa kali pesta diadakan di uma itu. Bukan karena kurang kerjaan.

Pada event “mendapat hasil buruan” tampak Ikatan sosial yang nyata. Begitu hasil buruan tiba di uma, alat musik kayu obbuk dan bolobok pun dibunyikan; mengumpulkan saudara sesuku. Daging hasil buruan harus dibagi sesuai aturan, pelanggaran dianggap akan mendatangkan petaka, terkutuk jadi buaya & lambang ketamakan. Maka, jumlah buruan pun menjadi terbatas sesuai kebutuhan. Etisnya mereka harus membagi daging hasil buruan pada suku tetangganya, jika pembagian hasil buruan di lingkungan suatu suku itu diketahui suku tetangganya. Pola konsumsi mereka ini secara tidak langsung tetap menjaga keseimbangan alam.

Pendatang luar (si toi) wajib bayar upeti pada penduduk asli (sibakkat laggai), jika ingin mengelola hutan sekitar kampung yang belum terjamah. Secara adat, tanah sekitar kampung adalah milik sibakkat laggai.

Makanan primer mereka adalah sagu & keladi. Tapi kemudianpun mengkonsumsi beras, ikan, berbagai jenis burung & babi hutan. Tersedia cukup makanan pokok di hutan mereka yang berawa-rawa.

Tembakau, peralatan besi, pakaian, bahan bakar, beras, garam dan lain-lain, biasanya didatangkan oleh pedagang dari Padang (Sumatera Barat) sebagai daerah terdekat, yang mereka barter dengan hasil hutannya yang subur dan kaya (rotan, manau, kayu, cengkeh, kopra, dll).

Tiada strata, tingkatan sosial, tidak ada kelompok pemimpin atau budak bagi mereka. Hidup berkelompok pada pemukiman yang mereka sebut ‘UMA’ (istilah untuk kelompok pemukim & tempat pemukiman itu sendiri). Uma, biasanya berupa rumah tradisionil yang cukup besar dan bisa dihuni beberapa keluarga batih berbasis patrilineal (garis keturunan ayah). Di sekitar uma didirikan beberapa ‘LALEP’ (rumah keluarga yang pernikahan mereka belum resmi). Setiap lelaki mengambil istri dari uma tetangganya. Jika suami meninggal nanti, sang janda kembali ke uma asalnya.

Tiap uma dipimpin seorang RIMATA. Biasanya lelaki yang bijak & berpengalaman, tapi ada juga yang dipilih berdasar keturunan. Rimata sebenarnya pemimpin adat uma itu sendiri. Kalau ada yang dianggap pelopor biasanya adalah orang yang ahli dibidangnya, dan tidak harus orangtua berpengalaman. Hubungan uma satu dengan yang lain dijaga dengan ikatan pernikahan.

Kepimimpinan yang jelas, tercermin dalam sistem religi. semua upacara – upacara tradisional mereka yang beragam, dipimpin oleh seorang KEREI atau sikere (dukun, tokoh spritual).

Agama asli orang Mentawai, Sabulungan, percaya bahwa segala sesuatu punya roh masing-masing yang sama sekali terpisah dari raganya & bebas berkeliaran di alam luas.

Kekuatan terselubung dalam suatu benda yang bisa mengganggu manusia, mereka sebut ’bajao’. Karenanya harus diadakan upacara ‘pulaijat’ (pembersihan uma) di waktu tertentu (selama 1 minggu, bahkan lebih). Selama itu mereka terkena aturan punen (ritual pelarangan mengerjakan tabu yang berkaitan dengan pulaijat). Sikerei (pemimpin upacara) tidak terikat pada kelompok uma asalnya, ia dapat dipanggil memberi pengobatan di uma yang lain. Imbalan atas pengobatannya itu akan dibagi pada sesama anggota uma asalnya.

Tiap roh berpengaruh satu sama lain, kepercayaan mereka. dan kekuatan alam yang terselubung secara keseluruhan itu disebut ‘KINA ULAU’. Kepercayaan asli ini mulai berangsur digantikan oleh agama Islam & Kristen. Meski masih ada yang menganut agama asli, setidaknya masih percaya roh-roh gaib.

Orang Mentawai senang tari-tarian, diiringi beberapa buah gendang & gong yang didapat dari pendatang. Bagi mereka tarian itu perlambang gerak alam sekitarnya.

Pola kegiatan mereka sehari-hari yang berhubungan erat dengan punen (pesta-pesta suci) maupun syarat-syarat persembahan sebelum mendirikan rumah, berburu, membuka ladang, dsb.

Hubungan muda-mudi sebagai pasangan rumah tangga dapat diterima secara sosial dalam “hubungan rusuk”, yaitu suatu perkawinan yang belum diresmikan adat. Kedua muda-mudi pasangan rumah tangga harus mendirikan rumah sederhana, sementara si suami berusaha mencari nafkah & kesiapan materi yang lebih memadai.

Ini tanda bahwa pasangan muda tersebut masuk dalam sistem sosial, ke dalam kebersamaan adat. Hubungan ini disebut hubungan lalep. Mereka bisa tinggal di uma ayah si suami atau bila dia cukup mampu mendirikan rumah sendiri yang disebut rumah lalep.

Pernikahan resmi di Siberut memerlukan kesiapan sang lelaki; pertanggung-jawaban yang cukup berat bagi kelangsungan hidup calon istrinya. Jika sang lelaki dipandang telah mapan (ladang, peralatan rumah tangga, pohon sagu & babi), perkawinan bisa diresmikan adat. Sejak itu mereka diakui sebagai pasangan “dewasa” secara sosial. Seseorang akan terhormat jika dia telah tinggal di rumah lalep, berarti pernikahannya telah diresmikan adat. pasangan resmi tersebut bisa bergabung dan tinggal di uma ayah dari sang suami.

Jika rumah rusuk buat sementara, maka lalep dibangun permanen dan lebih baik. Lalep adalah rumah individual yang didirikan oleh lelaki kepala rumah tangga, bila uma orang tuanya penuh. Di masa lalu, keluarga dari beberapa lalep masih berusaha untuk mendirikan sebuah uma baru. Hal itu tampaknya sudah jarang dilakukan saat ini.

Sumber :By kernelizer.blogspot.com

Related Posts

Leave a Reply